Cukai dapat menjadi sarana untuk pengembangan kesadaran akan isu-isu lingkungan. Dalam konteks kesehatan misalnya, selama ini cukai telah mendapatkan justifikasi dan sekaligus legitimasi dari isu kesehatan.

Pada tingkat lanjut harus direbranding untuk menjustifikasi pengenaan cukai pada plastik, bbm, dan lain sebagainya. Namun sebaliknya mesti ada juga sumbangsih konkret cukai pada program-program rehabilitasi lingkungan dan kesehatan.

Memang, besaran cukai yang dikumpulkan tidak akan sanggup untuk menutup biaya (kerugian) yang timbul akibat penyalahgunaan barang kena cukai. Dalam  bahasa sederhana dapat dikatakan bahwa cukai tidak akan mampu menutup ongkos kesehatan akibat kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin misalnya.

Namun cukai dapat dialokasikan pada promosi kesehatan, promosi lingkungan, riset-riset di bidang kesehatan dan/atau lingkungan, serta membiayai riset-riset di bidang hukum yang pada gilirannya dapat menjadi basis yang kuat untuk pengenaan cukai secara bertanggung jawab dan berkeadilan.

Dalam tingkat lanjut, perlu ada beasiswa cukai untuk mahasiswa magister / doktoral yang mengambil tema-tema terkait cukai. Mudah-mudahan dengan yang demikian itu maka pengenaan cukai di Republik Indonesia dapat selevel dengan negara-negara maju terdekat semisal Singapura, Australia, Jepang atau New Zealand.