Rabu, 24 Mei 2017

Telah dilaksanakan PPKP mengenai Tata Cara Penyegelan Bea dan Cukai oleh PKC I, dibuka oleh Kepala Sub bagian Umum, Yuli Aldrin, beliau menyampaikan terima kasih atas kehadiran para pegawai dan semoga materi yang akan disampaikan dapat berguna bagi seluruh pegawai KPPBC TMP Tanjung Emas.

Materi dibawakan dengan menarik oleh Kepala Seksi PKC I, Rudi Aji. Beliau mengawali penyampaian materi dengan latar belakang masalah yang selama ini ada dalam hal penyegelan bea dan cukai. Apa itu penyegelan? Siapa yang memiliki wewenang melakukan penyegelan? Mengapa penyegelan dilakukan? Bagaimana tata caranya? Semua itu dibahas secara mendalam oleh Rudi.

Penyegelan adalah tindakan untuk mengunci, menyegel, dan/atau melekatkan tanda pengaman yang diperlukan guna mengamankan hak-hak negara. Penyegelan dilakukan dalam rangka:

  1. Penindakan, penyidikan, audit, penyitaan dalam rangka penagihan pajak dengan surat paksa; atau
  2. Pengamanan terhadap barang yang belum diselesaikan kewajiban pabean dan/atau cukainya atau barang lain yang harus diawasi.

Penyegelan untuk kasus nomor 1 dapat dilakukan oleh Pejabat Bea dan Cukai berdasarkan Surat Perintah dan setelahnya harus disusun berita acara penyegelan. Sedangkan untuk kasus nomor 2 dilakukan oleh Pejabat Bea dan Cukai tanpa berdasarkan Surat Perintah atau pihak lain setelah mendapat persetujuan dari Direktur Jenderal atau Pejabat Bea dan Cukai yang ditunjuk dan setelahnya wajib melakukan pencatatan. Mengapa harus disegel? Ada dua alasan yaitu petugas bea dan cukai tidak bisa mengawasi dan mengawal barang tersebut secara terus-menerus sehingga segel digunakan sebagai suatu alat untuk mengamankan barang tersebut agar sesuai dengan peruntukkannya.

Bagaimana jika segel rusak? Segel atau tanda pengaman Bea dan Cukai yang dilekatkan/dipasang pada barang, sarana pengangkut, peti kemas/kemasan, dan bangunan atau tempat lain tidak boleh dibuka, dilepas, atau dirusak tanpa ijin Pejabat Bea dan Cukai. Pemilik dan/atau yang menguasai barang, sarana pengangkut, peti kemas/kemasan dan bangunan atau tempat lain yang disegel oleh Pejabat Bea dan Cukai, wajib menjaga agar semua segel Bea dan Cukai tidak rusak atau hilang baik secara fisik maupun fungsinya. Pejabat Bea dan Cukai yang menemukan segel atau tanda pengaman Bea dan Cukai yang terbuka, terlepas, rusak, atau hilang baik secara fisik maupun fungsinya wajib membuat Laporan Kejadian untuk penyelidikan/penyidikan lebih lanjut.