bandara01

Selama bulan Februari 2014, Seksi Penyuluhan dan Layanan Informasi KPPBC Tipe Madya Pabean Tanjung Emas mengadakan kegiatan Pos Layanan Informasi Kantor Pos dan Bandara. Kegiatan ini diadakan dengan harapan masyarakat semakin mudah dalam memperoleh informasi mengenai prosedur sehingga nantinya dapat memaksimalkan pelayanan kepabeanan dan cukai khususnya Barang Kiriman Pos dan Barang Bawaan Penumpang. Selain itu kegiatan ini merupakan salah satu upaya kami untuk mendukung reformasi birokrasi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dalam membangun kepercayaan publik yaitu akuntabel, transparan dan pelayanan prima.

Kegiatan ini dilaksanakan dengan membuka meja layanan informasi di pos pengambilan barang di Kantor Pos MPC Semarang dan ruang tunggu Terminal Keberangkatan Luar Negeri Bandara Ahmad Yani. Apresiasi yang sangat baik dan dukungan kami terima dari berbagai pihak yaitu Kantor Pos MPC Semarang, Bandara Ahmad Yani dan seksi terkait untuk pelaksanaan kegiatan Pos Layanan Informasi ini.

Untuk mempermudah kami dalam menyampaikan prosedur penyelesaian Barang Kiriman Pos dan Barang Bawaan Penumpang, kami menggunakan media MMT, banner, dan brosur. Konsekuensi dari pelaksanaan kegiatan ini dan sebagai wujud kami dalam memberikan pelayanan prima kepada publik, kami berkomitmen akan selalu konsisten dan fast respons untuk setiap pertanyaan yang masuk ke layanan informasi baik melalui telepon, sms, YM, BBM, email, facebook, dan twitter.
Di kantor pos, banyak masyarakat bertanya-tanya mengapa barang kiriman tersebut dikenakan pajak padahal hanya hadiah (gift).

pos01

Dijelaskan bahwa Pengenaan Bea Masuk dan Pajak Dalam Rangka Impor (PDRI) atas Barang Kiriman Pos didasarkan pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 188/PMK.04/2010 tentang Impor Barang yang Dibawa Oleh Penumpang, Awak Sarana Pengangkut, Pelintas Batas, dan Barang Kiriman, disebutkan dalam Pasal 1 ayat 9, “Barang Kiriman adalah barang impor yang dikirim oleh pengirim tertentu di luar negeri kepada penerima tertentu di dalam negeri.”

Dijelaskan lebih lanjut dalam Pasal 23 :
(1) Terhadap Barang Kiriman, diberikan pembebasan Bea Masuk dan nilai pabean paling banyak FOB USD 50,00 (lima puluh US Dollar).
(2) Dalam hal Barang Kiriman melebihi batas nilai pabean sebagaimana dimaksud pada ayat (1), atas kelebihan tersebut dipungut Bea Masuk dan Pajak Dalam Rangka Impor (PDRI).

Selain itu, kami menerima banyak pertanyaan seputar penegahan kosmetik yang dikirim melalui kantor pos. Penegahan kosmetik Barang Kiriman Pos merujuk pada :
1. Peraturan Kepala Badan POM Nomor 27 tahun 2013 tentang Pemasukan Obat dan Makanan ke dalam Wilayah Indonesia :
a. Pasal 1 ayat (1), “Obat dan Makanan adalah obat, obat tradisionil, obat kuasai, kosmetika, suplemen kesehatan, dan pangan olahan.”
b. Pasal 2 ayat (1), “Obat dan Makanan yang dapat dimasukkan ke dalam wilayah Indonesia untuk diedarkan adalah Obat dan Makanan yang telah memiliki izin edar.”
c. Pasal 6 ayat (1), “Pemasukan Obat dan Makanan hanya dapat dilakukan oleh pemegang izin edar atau kuasanya.”
2. Surat Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Kosmetik dan Produk Komplemen Nomor : ST.05.03.43.01.14.89 tanggal 13 Januari 2014 hal Pemasukan Kosmetik Untuk Kepentingan Pribadi menjelaskan bahwa Badan POM tidak menerbitkan izin SAS (Special Acces Scheme) untuk pemasukan kosmetik dengan tujuan pemakaian sendiri/pribadi.
3. Konfirmasi email dari Halo BPOM bahwa produk kosmetika dari luar negeri untuk pemakaian sendiri dan belum memiliki izin edar dari Badan POM tidak diperbolehkan. Tujuannya yaitu untuk melindungi konsumen dari produk yang tidak terjamin keamanannya karena produk tersebut belum terdaftar dan belum memiliki izin edar dari Badan POM.

Disadari bahwa kegiatan ini tidak semulus seperti yang kami bayangkan. Di Bandara Ahmad Yani, kami menemui kendala yaitu dikarenakan penumpang diperbolehkan masuk ke dalam ruang tunggu keberangkatan tiga puluh menit sebelum keberangkatan pesawat, serta tempat yang tidak memungkinkan untuk pemberian informasi maka langkah yang kami ambil yaitu dengan pemberian informasi secara personal. Bukan hanya keterbatasan tempat dan waktu, kami juga menerima banyak penolakan dari para penumpang. Hal ini kami ibaratkan dengan seorang sales yang sering mendapat penolakan. Bagi mereka penolakan hal yang sudah wajar dalam dunia marketing, maka dibutuhkan kesabaran dan ketahanan mental yang ekstra. Begitupun halnya dengan kami, akan tetap konsisten dalam pekerjaan dan pantang menyerah selalu berinovasi ke arah yang lebih baik seperti dicita-citakan reformasi birokrasi.

Sebagai hasil monitoring dan evaluasi kegiatan Pos Layanan Informasi ini, kami masih memandang perlu untuk menyediakan roll up banner, MMT, dan Brosur di terminal kedatangan Bandara Ahmad Yani dan Kantor Pos serah di bawah Kantor Pos MPC Semarang sehingga informasi lebih mudah didapatkan oleh masyarakat luas. (artha/pli/temas)

:foto-foto kegiatan KLIK disini