Semarang (30/05/2018) – Permasalahan barang penumpang dan barang kiriman yang sering dialami oleh Tenaga Kerja Indonesia disebabkan ketidakpahaman terhadap aturan yang berlaku. Untuk memininimalisasi permasalahan tersebut, Bea Cukai Tanjung Emas sosialisasikan aturan barang kiriman dan barang penumpang kepada 30 Calon TKI di PT. Andromeda Graha, Senin (28/05).

Materi sosialisasi disampaikan oleh Kepala Subseksi Penyuluhan Yendra Robi dan tim yang beranggotakan Pramesti Bintang Mahapsari dan Anis Yulianti.

“Kami dari Bea Cukai Tanjung Emas yang mengawasi barang yang dibawa ibu-ibu dari luar negeri. Entah dari bandara internasional atau pelabuhan internasional. Selain itu kami juga bertugas di Kantor Pos dan Perusahaan Ekspedisi yang melayani pengiriman barang dari luar negeri,” terang Robi.

Kebanyakan dari para calon TKI belum mengenal apa itu Bea Cukai padahal banyak yang sebelumnya sudah pernah bekerja di luar negeri.  Bahkan ada yang belum dapat membedakan antara imigrasi, Aviation Security dan Bea Cukai.

“Saya pernah bawa shampoo nggak ada 1 liter tapi kok ditahan Pak?” Tanya salah seorang calon TKI.

Robi menjelaskan bahwa aturan tentang barang bawaan ketika akan memasuki pesawat adalah aturan dari Kementerian Perhubungan yang dilaksanakan oleh Aviation Security untuk keselamatan penerbangan.

Keberadaan Bea Cukai di terminal kedatangan Bandara Internasional adalah untuk mengawasi barang-barang impor yaitu barang yang dibawa oleh penumpang dari luar negeri. Robi menjelaskan barang apa saja yang merupakan barang larangan dan barang yang dibatasi pembawaannya. Ia juga menjelaskan batasan barang  yang dapat memperoleh pembebasan Bea Masuk dan Pajak Impor.

Selain aturan pembawaan barang, Robi dan Tim juga menjelaskan aturan tentang pengiriman barang dari luar negeri yang juga sering dilakukan oleh TKI. Permasalah yang sering terjadi adalah ketika barang kiriman tidak sampai di tangan penerima atau modus-modus penipuan yang mengatasnamakan Bea Cukai.

Pada kesempatan ini lah Bea Cukai Tanjung Emas mengedukasi masyarakat terutama calon TKI yang nantinya akan sering melaksanakan kegiatan pembawaan dan pengiriman barang dari luar negeri agar tidak mengalami permasalahan serupa.