Kepala Kantor Wilayah DJBC Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta, Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Tanjung Emas, Kepala KPPBC TMP Tanjung Emas Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Semarang, Kepala Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan, CEO PT Pelabuhan Indonesia III (Persero), dan General Manager Terminal Peti Kemas Semarang sambut kedatangan Komisi XI DPR RI dalam rangka kujungan kerja reses masa persidangan I Tahun Sidang 2020-2021, Kamis (08/10/2020) di Pelabuhan Tanjung Emas.

Kunjungan kerja pada kesempatan kali ini terkait penerapan Single Submision dan Joint Inspection Karantina dan Bea Cukai yang telah dilakukan penerapan secara penuh (Mandatory) pada tanggal 28 Sepetember 2020. Single Submision dan Joint Inspection merupakan tahapan pertama dari program National Logistics Ecosystem (NLE) di Pelabuhan Tanjung Emas. Sesuai Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2020 tentang Penataan Logistik Nasional, National Logistic Ecosystem (NLE) merupakan program yang menyelaraskan arus lalu lintas barang dan dokumen baik Internasional maupun domestik yang berorientasi pada kerjasama antar instansi pemerintah dan swasta, melalui pertukaran data, simplifikasi proses,  penghapusan repetisi dan duplikasi, serta didukung oleh sistem teknologi informasi yang mencakup seluruh proses logistik terkait dan menghubungkan sistem-sistem logistik yang telah ada.

National Logistic Ecosystem (NLE) dapat menjadi alat untuk momonitor janji layanan (SLA) yang ditetapkan dalam masing-masing peraturan perundangan, sekaligus sebagai alat kontrol kepatuhan dalam implementasinya. Bahkan NLE diharapkan dapat mengambil keputusan otomatis jika dalam implementasi layanan tertentu ternyata melampaui janji yang ditetapkan (Auto Approve). NLE dapat mendorong standardisasi layanan dan standar teknis lainnya antara lain : standar biaya, standar kelayakan (truck,  forklift), sertifikasi profesi (supir, operator forklift ).

Manfaat setelah diberlakukannya Single Submission (SSM) dan Joint Inspection Pabean-Karantina di Pelabuhan Tanjung Emas antara lain adanya efisiensi waktu dan biaya. Sebagai ukuran perbandingan untuk satu petikemas ukuran 20 feet hingga keluar dari Pelabuhan Tanjung emas sebelumnya memakan waktu 3 hari 23 jam menjadi 2 hari. Dari sisi Biaya, proses ini menghilangkan biaya dari kegiatan Gerakan Ekstra (Penarikan Peti Kemas dari CY2 ke CY3, potensi biaya penumpukan Peti Kemas, Potensi 2 hari Demurrage Cost.

Proyeksi terhadap penerimaan negara tahun 2021 dari sektor bea masuk dan bea keluar dengan diberlakukannya National Logistic Ecosystem (NLE) di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang adalah dengan adanya National Logistic Ecosystem (NLE) arus barang keluar masuk ke Pelabuhan Tanjung Emas diharapkan akan meningkat, karena adanya efisiensi waktu dan biaya. Dengan tren arus barang yang terus meningkat maka akan berbanding lurus dengan penerimaan negara. Penerimaan

Dalam waktu dekat Pelabuhan Tanjung Emas tengah menyiapkan Penebusan Delivery Order (DO) dan Persetujuan Pengeluaran Peti Kemas (SP2) Online. Pelaksanaannya menunggu mandatory oleh tim NLE Pusat, sebagai tahapan selanjutnya dari Single Submision dan Joint Inspection Pabean-Karantina. Pembangunan NLE akan terus berlanjut dengan tahapan berikutnya sehingga NLE di Tanjung Emas akan selesai pada tahun 2024