Sidang perdana kasus dugaan penistaan agama Islam dengan terdakwa Basuki Tjahja Purnama alias Ahok pada tanggal 13 Desember 2016 di Pengadilan Jakarta Pusat yang lalu menyisakan kejadian menarik yang patut dicermati. Air mata mengalir deras dari balik kacamata Ahok. Salah satu calon dari Pasangan Calon Pilkada Gubernur DKI itu sempat menangis ketika membacakan nota keberatan atau eksepsinya di depan Majelis Hakim. Menurutnya dia teringat dengan orang-orang yang dicintainya saat duduk di hadapan majelis Hakim. Apakah tangisan itu benar-benar penyesalan dan keluar dari lubuk hati yang paling dalam dari seorang Ahok, ataukah hanya “air mata buaya” yang merupakan strategi untuk memainkan emosi dan empati Majelis Hakim dan penonton sidang? Penulis maupun kita semua tidak punya kapasitas untuk menjawab pertanyaan tersebut. Panggung peradilan itu menjadi wilayah kekuasaan yudikatif dan hakim yang berwenang untuk memutuskan berdasarkan alat bukti dan keyakinannya. Kita hanya sebagai penonton saja dan biarlah hal itu nantinya akan terjawab dengan bergulirnya sidang, dengan rangkaian pertanyaan dan jawaban yang akan menjadi fakta di persidangan.

Penulis hanya ingin memotret bahwa sejatinya sejak Nabi Adam as. hingga sekarang keberadaan manusia ada sisi buruk maupun sisi baiknya. Di antara sisi buruknya adalah manusia gemar berbohong, berdusta atau menipu. Sekali lagi  bukan berarti contoh yang Penulis ilustrasikan dan tersebut di atas, merepresentasikan manusia yang suka berbohong. Sebagai referensi saja dan patut diketahui bahwa beberapa tokoh dunia seperti Isaac Newton, Louis Pasteur, Gregory Mendel dan Charles Darwin pun pernah melakukan kebohongan. Isaac Newton pernah mengubah beberapa data, Louis Pasteur pernah menggunakan vaksin orang lain, Gregory Mendel pernah mengubah beberapa data dan Charles Darwin pernah menggunakan teori orang lain tanpa menginformasikan kepada yang bersangkutan.

 

Kebohongan atau tipuan dalam dunia investigasi disebut Deception / Desepsi. Apakah yang dimaksud dengan desepsi itu? Menurut Dictionary Merriam-Webster, desepsi adalah “Sebuah tindakan yang membuat seseorang percaya tentang sesuatu yang tidak benar; tindakan menipu seseorang” atau “Suatu tindakan atau pernyataan yang dimaksudkan untuk membuat orang lain percaya tentang sesuatu yang tidak benar”.

 

Apakah desepsi ini bisa dideteksi ? Pengetahuan mengenai membaca dan menganalisis gejala-gejala perilaku ini dikembangkan oleh John E. Reid yang merupakan pelopor Behavior Symptom analysis (BSA). Sejak tahun 1942 Reid secara sistematis merekam gejala perilaku dari semua tersangka yang diperiksa dengan alat untuk mendeteksi kebohongan (lie detector atau polygraph) di Laboratorium Ilmiah untuk mendeteksi kejahatan Kepolisian Chicago (Chicago Police Scientific Crime Detection Laboratory). Selanjutnya dia membandingkan BSA dengan hasil polygraph. Dalam tahun 1900an Reid memperoleh dua hadiah dari Pemerintah Federal USA untuk meneliti secara khusus, pebedaan antara perilaku tersangka yang menceritakan kebenaran (truthful suspect) dan kebohongan (deceptive suspect), di luar lingkup pemakaian polygraph. Penelitian ini dibiayai oleh The National Security Agency dan karenanya dikenal sebagai the NSA study. Penelitian ini menunjukkan adanya tiga tingkat atau saluran yang kita pergunakan untuk berkomunikasi, yaitu :

  1. Verbal channel – ini adalah ucapan yang keluar dari mulut seseorang, pilihan kata dan susunan kata-kata yang dipergunakannya untuk mengirimkan pesan;
  2. Paralinguistic channel – ciri-ciri percakapan (characteristics of speech) di luar apa yang diucapkan:
  3. Nonverbal channel – ini adalah sikap tubuh (body posture), gerak tangan (hand gestures) dan mimik wajah (facial expression)

 

Manusia normal tentu akan merasa cemas (anxiety) ketika yang bersangkutan melakukan kebohongan. Kecemasan itu timbul dari dalam jiwanya. Bisa jadi rasa cemas itu timbul karena kesadaran nuraninya akan hal tidak benar yang dikatakan, atau bisa jadi karena takut kebohongannya bakal terungkap. Apapun penyebabnya, pihak yang berbohong akan bereaksi secara sadar untuk menekan atau menghilangkan kecemasannya. Inilah konsep dasar cara mendeteksi kebohongan berdasarkan pendekatan verbal behavior, paralinguistic behavior dan nonverbal behavior. Ketika seseorang diwawancarai maka ada 4 (empat) pilihan yang akan dilakukan oleh yang bersangkutan yaitu :

  • Berbohong (deception);
  • Mengelak atau menghindar (evasion);
  • Mengakui secara tersamar (omission), atau
  • Menceritakan apa adanya (truth).

Ketika yang bersangkutan  memutuskan untuk berbohong maka reaksi normalnya adalah dia akan berada pada tingkat kecemasan yang tinggi. Namun ketika yang bersangkutan  memutuskan untuk mengelak atau menghindar untuk menjawab sesuai pertanyaan yang diajukan maka reaksi normalnya adalah dia akan berada pada tingkat kecemasan yang sedang yaitu posisinya diantara rendah dan tinggi. Begitu juga ketika yang bersangkutan  memutuskan untuk mengakui secara samar maka reaksi normalnya adalah dia akan berada pada tingkat kecemasan yang rendah. Dan yang terakhir ketika yang bersangkutan  memutuskan untuk bersikap jujur dan menjawab apa adanya maka reaksi normalnya adalah tingkat kecemasannya tidak ada. Secara ringkas dapat digambarkan pada diagram berikut :

 

option truth omission evasion Deception
anxiety none low Low………..high High

 

Verbal behavior

Apabila terdapat pertanyaan : “ Apakah anda yang memalsukan dokumen invoice ini ?” Seandainya yang bersangkutan memutuskan untuk bersikap jujur maka jawabannya adalah : “ Ya, sayalah yang memalsukan.” Yang bersangkutan mengatakan the truth sehingga tidak akan menimbulkan kecemasan. Alternatif yang lain adalah yang bersangkutan akan membuat “pengakuan” yang dibungkus dalam ketidaksengajaan atau kekhilafan, bisa dibarengi dengan nonverbal behavior berupa gelengan kepala atau dengan paralinguistic behavior berupa ucapan berbisik, nyaris tak terdengar seraya berkata : “saya khilaf pak.” Tingkat kecemasan ada tetapi masih rendah. Pilihan yang selanjutnya adalah yang bersangkutan mengelak atau menghindar. Dalam evasion tersirat ungkapan tidak bersalah tanpa menyatakan secara tegas, maka jawabannya adalah : “ kenapa saya musti melakukan itu pak?” Atau bisa juga : “ memangnya saya ini siapa pak?” tingkat kecemasan lebih besar dari pada omission. Dan opsi  terakhir adalah berbohong habis-habisan. Jawabannya : “ Tidak, saya tidak memalsukan dokumen invoice.” Tingkat kecemasannya paling tinggi.

 

Cara lain berbohong adalah berbohong dengan menunjuk kepada sesuatu atau “Lying by referral”. Perhatikan wawancara sebagai berikut :

Penyidik B :  Apakah anda yang mensubmit dokumen PIB No aju >>> ke sistem aplikasi impor kantor anda ?

Tsk  X     :  Rekan bapak (Penyidik A) sudah menanyakan pertanyaan itu. Sudah saya jawab, saya tidak tahu apa-apa tentang itu pak.”

Dalam wawancara di atas Tsk X tidak berbohong. Dia berbohong kepada Penyidik A yang menanyakan hal yang sama sebelumnya. Dalam wawancara yg sebelumnya dia menjawab: saya tidak tahu apa-apa tentang itu. Dalam wawancara kedua, ia tidak berbohong dalam arti memang itulah yang dikatakan pada saat wawancara pertama. Namun dalam wawancara kedua dia berbohong dengan cara merujuk ke wawancara pertama. Itulah lying by referral.

Kadang-kadang pada saat pers conference pimpinan kita terpojok oleh pertanyaan wartawan yang tidak bisa dijawab secara jujur karena masalah yang sensitif sehingga jawabannya tidak menjawab pertanyaan, namun justru dengan mengutip peraturan atau undang-undang atau ketentuan yang berlaku dan lain-lain. Ini juga merupakan taktik berbohong yang disebut dengan istilah Qualified response yaitu tanggapan dengan catatan. Ada beberapa jenis yaitu :

  • Generalization statements : pernyataan yang dibuat subyek yang berbohong untuk membuat penjelasannya kelihatan atau kedengaran meyakinkan

Contoh : generally …. (umumnya / biasanya…..), As a matter of habit…., typically…,

  • Menyalahkan ingatan sendiri, seperti : “ ya, maklumlah, saya kan sudah tua….”, sepanjang ingatan saya….., kalau tidak salah ingat ……., yang saya ketahui ….., saya tidak ingat apakah……..,
  • Omission qualifier, yaitu ada freseologi yang mengindikasikan bahwa yang bersangkutan menghilangkan sebagian jawabannya

Contoh : hampir tidak pernah……, tidak sering sih….., nggak juga sih……, nggak ada yang penting sih……

  • Estimation phrases, contoh : “jawaban saya  mengenai  hal  itu adalah, tidak”  atau “I would have to say, no”

Jawaban yang kadang-kadang justru mengandung kebohongan adalah seringkali diembel-embeli dengna fraseologi tertentu untuk meningkatkan keyakinannya, contoh : Demi Tuhan……, Aku bersumpah……, kukatakan sejujurnya……

Strategi lain untuk menekan perasaan cemas adalah memberikan pernyataan yang kelihatannya mengingkari kepentingan pribadi, sebelum memulai dengan kalimat yang berisi kebohongan, contoh : bukannya saya tidak mau menjawab pertanyaan bapak, namun ………….(yang bersangkutan memang tidak menjawab pertanyaan); saya tidak bermaksud menyalahkan siapa-siapa, tapi……….( tapi selanjutnya yang bersangkutan menyalahkan orang lain).

Ada juga usaha yang dilakukan untuk dapat berbohong yang meyakinkan, tentunya yang bersangkutan akan menghafal jawaban atas pertanyaan seperti layaknya menghafal skenario dalam sinetron. Nah, untuk menghadapi Verbal behavior yang terlatih tersebut biasanya menggunakan :

  • Noncontracted denial, dalam bahasa inggris orang bisa mengatakan I don’t, I didn’t, I wasn’t (disebut contracted: karena bentuk pendek atau terpotong) atau bisa juga I do not, I did not, I was not (disebut noncontracted). Apabila jawaban pertanyaan selalu menggunakan noncontracted dan diulang-ulang, maka besar kemungkinan dia berbohong yang terlatih.
  • Listing, yang bersangkutan membuat jawaban layaknya membuat daftar kemungkinan, lengkap dengan penomorannya, contoh :

Penyidik A :  “Menurut saudara mengapa  saudara tidak mungkin menjadi pelakunya?”

Tsk  X         : ” Pertama, perusahaan impor ini tempat saya mencari nafkah selama bertahun-tahun. Kedua, saya juga turut andil dalam membesarkan perusahaan ini. Ketiga, saya kenal banyak sekali dengan pejabat bea cukai……”

Paralinguistic behavior

Selain verbal behavior perlu diperhatikan juga ciri-ciri tertentu dari percakapan (speech characteristics) yang terlihat dari suatu wawancara untuk mendeteksi adanya desepsi. Misalnya menjadi suatu kebiasaan seorang bos perusahaan importir menyebut bawahannya sedang “bersemangat” padahal kenyataannya sedang “loyo”. Jadi dia mengubah keadaannya 180 derajat berbeda, dengan ucapan : “ Bah, mengapa kalian menjadi besemangat begini, ayo move on ….” Ciri-ciri tersebut yang dinamakan paralinguistic behavior, dan jika dibandingkan dengan saluran verbal, saluran paralinguistic ini lebih sedikit terkontaminasi dengan faktor-faktor eksternal sehingga lebih natural dan lebih mudah untuk mendeteksi adanya desepsi.

Ciri-ciri yang lainnya adalah :

  • response latency menunjukkan rentang waktu antara kata terakhir dari pertanyaan pewawancara dengan kata pertama dari jawaban yang diwawancara. Dalam the NSA study, response latency rata-rata untuk jawaban jujur adalah 0,5 detik. Sedangkan untuk jawaban bohong adalah 1,5 detik.
  • early response, yaitu jawaban lebih awal sudah dikatakan padahal pewawancara belum menyelesaikan pertanyaan. Untuk jawaban jujur, early response hanya terjadi di awal-awal wawancara dan itupun pada saat pewawancara menyelesaikan pertanyaan yang bersangkutan akan mengulang jawaban yang sudah diberikan di awal pertanyaan tadi. Berbeda dengan jawaban bohong, early response bisa juga terjadi di tengah bahkan di akhir wawancara. Selain itu yang bersangkutan merasa tidak perlu mengulang jawabannya kembali pada saat pewawancara menyelesaikan pertanyaannya.
  • response length. Penelitian menunjukkan bahwa secara statistik jawaban yang jujur akan memberikan jawaban yang lebih panjang, detil dan lengkap dibandingkan jawaban bohong. Bahkan dimungkinkan adanya jawaban tambahan yang relevan dengan pertanyaan si pewawancara. Berbeda dengan jawaban bohong yang singkat dan cenderung mengalihkan topik pertanyaan.
  • response delivery. Penyampaian jawaban jujur biasanya terlihat dari kecepatan (rate), tinggi rendahnya nada (pitch) dan kejelasan (clarity) informasi maupun kata-kata yang diucapkan. Sebaliknya jawaban bohong biasanya diucapkan dengan suara pelan, tidak jelas dan menggumam (mumble).
  • continuity of the response. Jawaban yang jujur akan mengalir dengan bebas, kalimat satu dengan kalimat yang lain sambung menyambung, tidak melompat-lompat, spontan dan menjadi satu kesatuan berpikir. Sebaliknya jawaban yang tidak jujur terdapat perilaku stop-and-start behavior, artinya pada saat yang bersangkutan menjawab pertanyaan dan ada hal yang tidak nyaman yang bersangkutan akan berhenti sejenak dan kemudian melanjutkannya lagi.
  • erasure behavior yaitu perilaku yang mencoba menghapus apa yang baru saja dikatakan. Sebagai contoh dalam percakapan sehari-hari seseorang yang barusan mengatakan sesuatu kepada orang lain yang selanjutnya terpikir olehnya bahwa kata-kata tersebut kurang pantas dan khawatir akan membuat tersinggung, maka ia mengatakan “becanda aja koq” sambil diiringi gerakan alis ke atas dan tersenyum. Dalam komunikasi paralinguistic, selain gerakan alis ke atas dan tersenyum terdapat perilaku tertentu lainnya yaitu : tertawa, batuk-batuk kecil atau berdehem, segera sesudah mengucapkan bantahan.

Nonverbal behavior

  • postur yaitu sikap tubuh ketika diwawancarai. Postur yang mencerminkan sikap jujur adalah postur tubuhnya tegak, searah dengan pewawancara, pada saat ada pernyataan penting badan dicondongkan mendekati arah pewawancara seakan-akan ingin menggarisbawahinya, sekalipun sambil menyilangkan kaki itupun dilakukan dengan santai dan nyaman. Sebaliknya postur yang mencerminkan sikap tidak jujur adalah gerakan tubuhnya lamban, seakan tidak berdaya, terjerembab dalam kursinya (slouching posture). Meski sedang diwawancara tetapi seoalah-olah pikirannya berada di tempat lain. Nampak tidak berminat untuk diwawancarai, postur tubuh menjauhi pewawancara. Bentuk lain dari sikap menjauh adalah sikap menyilangkan tangan di depan dada dan menyembunyikan kaki di bawah kursi (retreating posture). Perilaku nonverbal yang paling mengisyaratkan perilaku tidak jujur adalah kemampuannya untuk mempertahankan sikap tersebut selama wawancara berlangsung, statis dan tidak berubah.
  • gerak tangan (gesture), contoh gerak tangan yang mencerminkan sikap yang jujur adalah illustrating behavior yaitu gerakan tangan seperti ingin menjelaskan atau menceritakan aktivitas fisik yang dilakukan. Sedangkan contoh gerak tangan yang mencerminkan sikap yang tidak jujur adalah protective gesture seperti tangan menutup muut dan menjawab pertanyaan melalui celah-celah jari jemari, seolah-olah jari-jarinya menyaring jawaban tidak jujurnya, selain itu tangan berpura-pura atau secara tidak sadar menggosok-gosok mata atau alis mata.
  • gerak kaki. Contoh gerak kaki yang mencerminkan sikap yang tidak jujur adalah hentakan kaki saat memulai dan mengakhiri secara mendadak bersamaan pada saat menjawab pertanyaan. Selain itu indikasi tidak jujur juga terlihat pada saat duduk menjawab pertanyaan, yang bersangkutan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi disertai kedua kaki yang menapak kuat dan mendorong kursi hingga bertumpu dengan dua kaki kursi belakang saja.
  • mimik muka dan kontak mata; perubahan mimik muka pada saat menjawab pertanyaan yang penting mengindikasikan ketidakjujuran, karena sebenarnya terlihat kecemasan yang berupaya ditutupi oleh yang bersangkutan. Sebaliknya kalau tidak terdapat perubahan ekspresi wajah menandakan jawaban jujur. Yang agak sulit dinilai adalah apabila perubahannya adalah menjadi ekspresi marah. Kontak mata antara pewawancara dan yang diwawancarai adalah non verbal yang sangat penting untuk dievaluasi dan dinilai. Dalam budaya barat, kontak mata secara timbal balik mencerminkan keterbukaan, jujur dan apa adanya (candor) dan Sebaliknya sikap tidak jujur ditandai dengan keengganan menatap pewawancara, menundukkan kepala dan mengalihkan pandangan.

Penutup

Sebagaimana dijelaskan di awal, pembahasan BSA memang diambil dari hasil penelitian John E. Reid, dengan populasi dan sampel yang berbahasa Inggris dan berbudaya barat, sehingga bisa jadi terdapat deviasi atau bias apabila diterapkan di Indonesia. Secara verbal behavior  terdapat kesulitan mencari padanan kata, sebagai contoh untuk noncontracted denial.  Memang perlu dilakukan penelitian dalam konteks bahasa dan budaya Indonesia. Namun yang lebih penting menurut Albert Mehrabian terkait fakta dasar dalam komunikasi ternyata bahasa tubuh memiliki porsi yang tertinggi yaitu 55 %, sedangkan nada suara porsinya 38 % dan kata-kata hanya mendapatkan porsi 7 %. Artinya bahwa bahasa tubuh atau nonverbal behavior memang  merupakan faktor yang dominan dalam berkomunikasi. Dan itu hal yang universal, sehingga para pewawancara maupun penyidik bea cukai hendaknya perlu mengetahui dan mencermati nonverbal behavior yang keluar dari yang diwawancarai atau yang disidik.

Sumber

  1. Inbau, Fred E,, Reid, John E., Buckley, Joseph P., and Jayne, Brian C, Criminal Interrogation and Confessions, Jones and Bartlett Publishers, 2004, fourth edition.
  2. Tuanakotta, Theodorus M, Akuntansi Forensik dan Audit Investigatif, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2007.
  3. Modul Detecting Deception oleh Narasumber PT Narapatih Inspiratama dalam Workshop Behavior Detection and Risk Assessment pada KPU Bea Cukai Tipe C Soekarno Hatta 2016.

Oleh : AGUNG TRI SAFARI

KEPALA SEKSI PENYIDIKAN DAN BHP, KPU TIPE C SOEKARNO HATTA